Watch your thoughts, for they become words.
Watch your words, for they become actions.
Watch your actions, for they become habits.
Watch your habits, for they become character.
And watch your character, for it becomes your destiny.
(via yelyahwilliams)
Source: quote-book
SUBMISSION: belindch. Thank you, sister.
WARAK NGENDOG (captured at Central Java Parade) - a mythical creature from Semarang, Central Java. Usually made a few days before Ramadhan (holy month for moslem), as the closing of dugderan (a traditional festival to celebrating ramadhan). This creature is believed to represent 3 different ethnics which live in Semarang: Javanese, Arabian, and Chinese. We can see the head is like dragon head (Chinese), while the body is the combination of buraq (a special animal resembling the winged horse with a human head believed to take Prophet Muhammad to Sidratil Muntaha ~> Arabian) and goat (Javanese).
The word warak comes from wara’i (Arabian) which means holy. Ngendog (laying egg) symbolized as the reward of a person having previously obtained through the scriptures. So, warak ngendog can be defined as those who maintain the sanctity of Ramadan, one day at the end of the month will be rewarded on the Day of Eid.
Source: beingindonesian
Group 4 trip 9
Fisihing Catchinf Methods Practical Work 2012
19 Mei 2012
Group 1 & 4 - Shift 1 - Trip 9, MPI - Metode Penangkapan Ikan (Fishing Catching Methods) Practical Work 2012
-May 19th 2012
umm, me? The White One :p
sudah kubilang.. ini bukan praktikum.. ini rekreasi
big thanks to MPI practical work :* I do love you, SEA! :D
Finally, got this!
See you soon, Mr. Robert Downey Jr.!
this… reminds me something…..
thanks a lot google! :)
kamera
- mas asisten: "barang-barang kalian dulu yang masuk kapal."
- us: "ini mas, nitip kameranya." *ngasih 3 kamera ke mas asisten*
- mas asisten: "buset, ini kameranya banyak banget :|"
- us: "iya kan ini rekreasi, bukan praktikum :D"
- mas asisten: " :| "
Mr. Crab
the midnight… in the middle of Bagan Tancap…
Duduk di tengah bagan, berisik asik karna bunyi genset listrik
aku termenung, terpusatkan pada butiran bintang merelung
bertaburan menemaniku yang ditiup angin malam
menemani pak nelayan, menunggu ikan-ikan berkumpul pada cahaya terang
dia, menarik jaring dengan kuat tenaganya, mengambil ikan kecil dengan seroknya yang kokoh
yang lalu dikumpulkan, untuk dijual demi anak istri di rumah
walaupun hanya ikan kecil yang tertangkap
tak mengurungkan niatnya untuk begadang di malam hari
meninggalkan yang tercinta di rumah kecilnya di pinggir pantai
Duduk di samping kapal kayu, milik pak nelayan yang malu-malu
sambil tertawa cekikikan, terlihat gigi kuning pak nelayan
kami bercengkerama, menarik jaring bersama, belajar bersama
namun hanya cangkang-cangkang kerang yang didapat, dan sedikit ikan sebelah pada jaring arad
Di bawah terik matahari, hanya memakai caping
tidak ada kaos lengan panjang, kaos dalam saja sudah syukur
dengan satu matanya, ya, mirip seorang bajak laut
memberikan ilmu segar menangkap ikan untuk kami, aku
merelakan hasil tangkapannya untuk kami, aku
Aku memandang air asin yang menghempas kakiku
disembur terik matahari di samping kiriku, kuserap dalam-dalam..
melihat sekeliling laut, ombak, pulau panjang..
lalu hati kecilku berteriak, Subhanalloh..
Betapa kayanya sumberdaya kami.. Betapa indahnya karunia ini…
Betapa nikmatnya mendapatkan ikan…
Betapa berharganya kekayaan ini…
betapa.. betapa.. betapa..








